ANALISIS KEBERLANJUTAN AGRIBISNIS KAMBING ETAWA DI DESA TUNGGUL, KECAMATAN PACIRAN, KABUPATEN LAMONGAN
Abstract
Agribisnis kambing perah Peranakan Etawa (PE) berperan penting dalam penyediaan pangan hewani bergizi dan bahan baku pangan fungsional berbasis susu kambing. Namun, keberlanjutan produksi di tingkat peternak rakyat masih dipengaruhi oleh dinamika ekologis dan sosial, terutama di wilayah pesisir. Fluktuasi silase 6,2–10,7 ton (2020–2024) dan peningkatan suhu tahunan sebesar 3,1–3,4°C menunjukkan adanya tekanan agroekologis terhadap stabilitas produksi susu. Penelitian ini bertujuan menilai keberlanjutan agribisnis kambing Etawa pada dimensi ekologi dan sosial menggunakan analisis Multi-Dimensional Scaling (MDS) berbasis RAP-Kagot terhadap 46 peternak. Hasil menunjukkan bahwa dimensi ekologi memiliki indeks keberlanjutan 68,64% dan dimensi sosial 65,37%, keduanya termasuk kategori cukup berkelanjutan. Analisis leverage mengidentifikasi pengelolaan limbah, ketersediaan hijauan, dan penanganan penyakit sebagai atribut ekologis paling sensitif, sedangkan konflik masyarakat menjadi atribut sosial yang paling berpengaruh. Nilai stress (0,13–0,15), R² (0,93–0,95), dan selisih MDS monte carlo <1% menunjukkan stabilitas dan ketepatan model yang tinggi. Hasil penelitian menegaskan pentingnya penguatan manajemen pakan, peningkatan kapasitas sosial peternak, dan penerapan teknologi pengelolaan limbah untuk mendukung keberlanjutan produksi susu Etawa sebagai sumber pangan dan bahan olahan fungsional.
